Laman

Jumat, 06 Juni 2014

Cerita Gunung Bromo Bahasa Inggris

Gunung Bromo


Long long time ago there lived a couple in the village near the top of mount Bromo. Joko Seger is his name. He lived peacefully with his wife Roro Anteng. But they were not happy because after some time they did not have any children. Then Joko Seger meditated in mount Bromo asking for god to give them children.

Some times later Joko Seger had a dream. In his dream he was told that he would have descendants but on one condition. The god asked him to sacrifice his children to the crater of mount Bromo. If he refused to sacrifice, then the god will be angry. Without thinking twice Joko Seger agreed to the condition.

After that every year Roro Anteng gave birth to twenty five children. They were very happy and they loved their children so much that they were reluctant to sacrifice them to the crater. They did not give anything to the crater. Then something happened.

One day there was a big eruption of mount Bromo. Smoke, fire, hot cloud of ash came out of its crater. The earth was trembling. The sky was dark. Animals ran away from the mountain. People were very scared since some of them became victims of the hot cloud.

Joko Seger and Roro Anteng remembered their promise to god. He realized that god was very angry. So he decided to sacrifice one of his sons. Then he went to the crater with his youngest son Kusuma. Because Joko Seger did not really want to sacrifice his son to the crater, he tried to hide him. But suddenly an eruption began and made Kusuma fall. Afterwards, Kusuma, who had fell to the crater, gave a voice, "I have to be sacrificed by my parents so that you will all stay alive. From now on, you should arrange an annual offering ceremony on the 14th of Kesodo (the twelfth month of Tenggerese calender.)"

Since then on Joko Seger and Roro Anteng gave offerings to the crater. Every year on the 14th day of the month of Kesada the people of Tengger held a ceremony to give offerings.

Cerita Kutukan Raja Pulau Mintin

Kutukan Raja Pulau Mintin

 


Pada zaman dahulu, terdapatlah sebuah kerajaan di Pulau Mintin daerah Kahayan Hilir, Kalimantan Tengah. Kerajaan itu sangat terkenal akan kearifan rajanya. Akibatnya, kerajaan itu menjadi wilayah yang tenteram dan makmur.

Pada suatu hari, permaisuri dari raja tersebut meninggal dunia. Sejak saat itu raja menjadi murung dan nampak selalu sedih. Keadaan ini membuatnya tidak dapat lagi memerintah dengan baik. Pada saat yang sama, keadaan kesehatan raja inipun makin makin menurun. Guna menanggulangi situasi itu, raja berniat untuk pergi berlayar guna menghibur hatinya.

Untuk melanjutkan pemerintahan maka raja itu menyerahkan tahtanya pada kedua anak kembarnya yang bernama Naga dan Buaya. Mereka pun menyanggupi keinginan sang raja. Sejak sepeninggal sang raja, kedua putranya tersebut memerintah kerajaan. Namun sayangnya muncul persoalan mendasar baru.

Kedua putra raja tersebut memiliki watak yang berbeda. Naga mempunyai watak negatif seperti senang berfoya-foya, mabuk-mabukan dan berjudi. Sedangkan buaya memiliki watak positif seperti pemurah, ramah tamah, tidak boros dan suka menolong.

Melihat tingkah laku si Naga yang selalu menghambur-hamburkan harta kerajaan, maka si Buayapun marah. Karena tidak bisa dinasehati maka si Buaya memarahi si Naga. Tetapi rupaya naga ini tidak mau mendengar. Pertengkaran itu berlanjut dan berkembang menjadi perkelahian. Prajurit kerajaan menjadi terbagi dua, sebahagian memihak kepada Naga dan sebagian memihak pada Buaya. Perkelahian makin dahsyat sehingga memakan banyak korban.

Dalam pelayarannya, Sang raja mempunyai firasat buruk. Maka ia pun mengubah haluan kapalnya untuk kembali ke kerajaanya. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa putera kembarnya telah saling berperang. Dengan berang ia pun berkata,”kalian telah menyia-nyiakan kepercayaanku. Dengan peperangan ini kalian sudah menyengsarakan rakyat. Untuk itu terimalah hukumanku. Buaya jadilah engkau buaya yang sebenarnya dan hidup di air. Karena kesalahanmu yang sedikit, maka engkau akan menetap di daerah ini. Tugasmu adalah menjaga Pulau Mintin. Sedangkan engkau naga jadilah engkau naga yang sebenarnya. Karena kesalahanmu yang besar engkau akan tinggal di sepanjang Sungai Kapuas. Tugasmu adalah menjaga agar Sungai Kapuas tidak ditumbuhi Cendawan Bantilung.”

Setelah mengucapkan kutukan itu, tiba-tiba langit gelap dan petir menggelegar. Dalam sekejap kedua putranya telah berubah wujud. Satu menjadi buaya. Yang lainnya menjadi naga.