Laman

Rabu, 21 Mei 2014

Cerita Putri Delima

Putri Delima


Dahulu kala ada seorang raja dan permaisuri, mereka mempunyai seorang putra mahkota. Raja dan permaisuri yang sudah lanjut usia ini sangat mencintai putra tunggalnya. Mereka menganjurkan agar putra mahkota segera mencari istri sehingga segera dapat menggantikan ayahnya.

Suatu hari, putra mahkota sedang makan ricotta, makanan kesayangannya. Ricotta adalah keju khas dari Italia dan berwarna putih. Karena lengah, jarinya luka tersayat pisau dan berdarah. Setetes darah jatuh ke atas potongan ricotta. Sambil memandang pada darah merah yang menetes di atas ricotta yang putih itu, timbul keinginannya yang aneh.

Tiba-tiba ia berkata pada ibundanya, “Wahai Ibunda, Ananda ingin mencari istri yang putih seperti ricotta dan merah seperti darah.”

Mendengar kata putra mahkota itu, ibundanya tertawa dan menjawab, “Anakku, mana ada putri yang putih seperti ricotta dan merah seperti darah.”

Namun, putra mahkota telah bertekad akan mencari seorang putri seperti yang diimpikannya. Betapapun kedua orang tuanya membujuk, ia tetap bersikeras. Suatu hari, putra mahkota memohon diri pada ibundanya untuk pergi berkelana. la berjanji tidak akan kembali sebelum mendapatkan istri yang sesuai dengan itnpiannya.

Berjalanlah putra mahkota menyeberangi sungai dan laut, merambah hutan dan mendaki gunung, berhari-hari dan bertahun- tahun. Pada suatu hari, di suatu tempat yang tenang ia bertemu dengan seorang wanita setengah tua yang menegurnya, “Wahai Pangeran, ke mana gerangan tujuan Tuan?”

“Aku mau mencari gadis yang putih seperti ricotta dan merah seperti darah.”

Wanita itu tercengang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tentu ia mengira kelana itu kurang waras. Putra mahkota meneruskan perjalanannya, tidak mengenal lelah dan payah. Suatu senja, ia bertemu dengan seorang nenek, “Hai orang muda, hendak ke mana kau gerangan?”

“Oh,Nenek, aku mencari putri idamanku yang putih seperti ricotta dan merah seperti darah.”

Nenek itu memandangnya sambil berkata, “Wahai orang muda, siapa yang putih tentunya tidak akan merah, sedang yang merah tentunya tidak mungkin putih.”

Mendengar kata nenek itu, putra mahkota hendak marah, tetapi nenek itu memegang tangannya. “Kalau kau memang yakin, pergi dan carilah putri idamanmu itu. Ambillah tiga buah delima ini sebagai bekal dari Nenek,” katanya sambil memberikan tiga buah delima ke tangan putra mahkota.

“Kupaslah buah ini dan lihat isinya. Namun, ada syarat yang harus kau patuhi. Kau boleh membuka kalau sudah sampai di sebuah telaga.”

Putra mahkota menerima buah delima sambil mengucapkan terima kasih dan meneruskan perjalanan. Tak lama kemudian, ia sampai di dekat sebuah telaga. la pun membuka sebuah delima. Tiba-tiba dari dalamnya muncul seorang gadis cantik yang putih seperti ricotta dan merah seperti darah. Putra mahkota tercengang penuh bahagia.

la baru sadar ketika mendengar keluhan gadis cantik itu, sambil memohon pada putra mahkota:

“Wahai orang muda ambilkan air sebab tanpa air aku akan mati lemas.”

Cepat-cepat putra mahkota berlari ke pinggir danau dan menyiduk air dengan kedua tangannya. Ketika ia kembali, sang gadis telah mati lemas. Kiranya ia sudah terlambat.

Dengan sedih diambilnya buah delima yang kedua dan dikupasnya dengan hati-hati. Dari dalamnya muncul pula seorang gadis yang lebih cantik daripada gadis pertama. Gadis ini merintih dan memohon pada putra mahkota untuk cepat-cepat mengambilkan air minum, kalau tidak ia akan mati kehausan. Putra mahkota berlari secepat-cepatnya dan menyiduk air dari telaga. Namun, ketika kembali, gadis itu telah mati kehausan. Putra mahkota menangis dan hampir putus asa.

Diambilnya buah delima yang ketiga dan dibukanya. Dari dalamnya keluar pula seorang gadis yang jauh lebih cantik daripada kedua gadis yang sebelumnya. Tanpa menunggu lagi, putra mahkota berlari, menyiduk air dan dicipratkannya air telaga ke muka gadis itu. Sang gadis menarik napas dan tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih.

Gadis itu tersipu-sipu menutupi tubuhnya dengan rambutnya yang panjang terurai. Sebagaimana bayi yang baru lahir, tubuh gadis ini tidak ditutupi sehelai benang pun.

Putra mahkota segera membuka mantel dan menyelimutkannya ke tubuh gadis itu. Sambil berpikir, ia memandang ke sekeliling telaga, lalu berkata, “Wahai gadis, lihatlah, di tepi telaga ini ada pohon yang rindang, naik dan duduklah di cabang pohon. Tunggu aku di sana. Aku akan pergi mengambil pakaian dan kereta untuk membawamu ke istana ayahku”

Dengan patuh, gadis itu memanjat pohon dan duduk pada dahan yang kuat dan rindang.

Alkisah, setiap hari rupanya orang di sekitar telaga itu datang untuk mengambil air. Salah seorang di antaranya adalah si Saracina, seorang gadis yang berwajah jelek. la bekerja di rumah seorang saudagar. Saudagar dan istrinya ini termasyhur sangat kikir. Setiap hari, Saracina harus mengambil air dari telaga itu.

Suatu hari, ketika ia datang untuk mengisi kendi airnya, dilihatnya di permukaan air telaga yang jernih itu ada bayangan wajah seorang gadis yang sangat cantik.

la berkata dalam hati, “Oh, bagaimana mungkin, seorang gadis yang berwajah cantik seperti aku ini harus mengambil air setiap hari untuk saudagar kikir itu.” Lalu, dihempaskannya kendi airnya sampai pecah dan cepat-cepat pulang.

Sesampai di rumah, istri saudagar bertanya, “Mana air dan kendinya?”

Istri saudagar sangat marah mendengar jawaban Saracina dan rnemerintahkan untuk kembali ke telaga mengambil air. Setiba di telaga, Saracina melihat lagi bayangan wajah cantik di permukaan air. “Oh, rupanya memang aku cantik sekali. Ah, peduli apa aku akan istri saudagar yang cerewet itu.” Lalu, dihempaskannya lagi kendi berisi air itu.

Demikianlah berkali-kali terjadi, sampai akhirnya gadis di atas pohon itu tak sampai hati lalu menegurnya.

Saracina kaget sekali dan memandang ke atas pohon sambil mendengarkan kisah gadis itu. Dengan marah, Saracina berkata, Mengapa tidak dari tadi kau mengatakannya, kau tunggu sampai aku memecahkan beberapa kendi dan menerima makian istri saudagar!”

Sambil memandang terus pada gadis itu, Saracina meneruskan, “Tapi kau memang cantik sekali, cantik sekali.”

Kemudian, timbul niat jahat dalam hati Saracina. “Turunlah wahai gadis cantik,” katanya, “aku ingin memegang rambutmu yang indah, biarkan aku menyisir rambut itu.”

Semula gadis itu tak mau turun. la malu sebab tidak memakai pakaian. Namun, Saracina memohon terus, ‘‘Turunlah, supaya aku dapat menyisir rambutmu, pasti kau akan kelihatan lebih cantik lagi.”

Karena kasihan, gadis itu turun sambil menguraikan rambutnya yang panjang dan lebat untuk menutupi tubuhnya. Saracina mulai membelai rambutnya dan menyisirinya. Sebentar kemudian, segera ia mengambil tusuk konde yang dipakainya dan menusukkan ke dalam telinga gadis itu. Dari telinga itu keluar setetes darah, lalu gadis itu pun mati. Tetesan darah itu jatuh ke tanah. Begitu jatuh ke tanah, segera berubah menjadi seekor burung dara yang cepat-cepat terbang. Kemudian, Saracina pun cepat-cepat naik ke atas pohon dan duduk di atas dahan yang rindang.

Sementara itu, putra mahkota kembali dengan kereta kuda yang indah dan seperangkat pakaian untuk gadis impiannya. Dengan hati-hati, diturunkan dan dituntunnya gadis itu dari pohon. Tiba-tiba ia terkejut ketika melihat gadis yang dituntunnya itu ternyata berwajah jelek. Lalu ia bertanya, “Tadi kamu demikian putihnya seperti ricotta dan merah seperti darah. Mengapa sekarang kamu menjadi hitam?”

Saracina menjawab, “Wahai putra mahkota, matahari bersinar dengan teriknya sehingga kulitku menjadi hitam.”

Putra mahkota bertambah heran mendengar suara yang serak dan kasar, “Mengapa suaramu berubah?”

Saracina menjawab, “Oh, putra mahkota, tadi angin dingin bertiup dengan kencangnya sehingga suaraku menjadi serak.”

Putra mahkota pun memandang dengan mata terbelalak, “Oh, tadinya kau sangat cantik, mengapa sekarang menjadi begini?”

“Yah, angin kencang yang bertiup telah membawa terbang seluruh kecantikanku.”

Putra mahkota terpaksa percaya semua kata Saracina. Dinaikkannya Saracina ke atas kereta kuda dan dibawa ke istana. Sejak itu, Saracina tinggal di istana, diperlakukan dengan baik dan menjadi calon pengantin putra mahkota.

Sejak kejadian itu, rupanya setiap hari di jendela dapur istana selalu hinggap seekor burung dara yang menantikan kebaikan hati tukang masak. Tukang masak istana selalu memberinya sisa-sisa makanan.

Sambil menikmati makanan, burung itu selalu menanyakan pada tukang masak, apa gerangan yang sedang dilakukan putra mahkota dan calon pengantinnya. Tukang masak selalu menjawab bahwa mereka setiap hari makan, minum, dan tidur. Demikianlah setiap hari burung itu datang, makan, dan menanyakan kabar putra mahkota.

Suatu hari, tukang masak memutuskan untuk menceritakan pada putra mahkota tentang burung ajaib itu. Putra mahkota pun menyuruh tukang masak untuk menangkap dan membawa burung itu kepadanya. Malangnya, pada saat itu Saracina sedang duduk di balik pintu. Setelah mendengar pembicaraan antara tukang masak dan putra mahkota, tahulah ia bahwa burung itu tak lain penjelmaan gadis cantik yang dibunuhnya.

Sebelum tukang masak dapat menangkap burung itu, Saracina sudah siap, lalu menangkap dan menusuk burung dara itu sampai mati. Dari tusukan di tubuhnya keluar darah. Setetes darah telah jatuh ke tanah di dalam taman di samping jendela dapur. Pada tempat darah itu menetes, tumbuh sebatang pohon delima. Pohon delima ini tumbuh dengan subur dan buahnya sangat lebat.

Ternyata buah delima ini mempunyai khasiat. Barang siapa yang memakan buahnya, ia akan sembuh dari penyakit apa pun. Demikianlah setiap hari berdatangan orang yang meminta buah delima untuk obat, sampai akhirnya hanya tinggal satu buah saja.

Lalu Saracina berkata, “Buah yang satu ini akan kupertahankan untukku sendiri,” lalu disimpannya.

Suatu hari, datang seorang wanita tua yang meminta buah delima sebab suaminya sakit keras. Saracina tidak mau memberikan buah itu, sampai kemudian datang putra mahkota yang telah mendengar juga permohonan wanita tua itu. Lalu, ia berkata pada Saracina agar memberikan saja buah delimanya pada wanita tua itu. Sayangnya, sudah terlambat, karena setiba wanita itu di rumah, suaminya sudah meninggal.

Wanita itu pun memutuskan untuk menyimpan delima itu untuknya sendiri, lalu disimpan di dekat tungku di dapur.

Setiap hari, wanita ini pergi mengerjakan kebunnya. Pada saat ia keluar rumah, keluarlah seorang gadis cantik dari buah delima. Dibersihkan rumah nenek itu, dihidupkan api untuk berdiang, lalu ia memasak dan mencuci pakaian. Setelah selesai, segera ia masuk kembali ke dalam buah delima.

Demikianlah terjadi setiap hari. Nenek itu tentu saja heran, tetapi tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Lama-kelamaan nenek itu mulai curiga dan memutuskan untuk mengintip.

Suatu hari, ia pura-pura pergi ke luar, tetapi kemudian kembali lagi ke dalam rumah dan bersembunyi di balik pintu. la pun melihat semua kejadian yang ajaib itu. Nenek sangat takjub melihat kecantikan gadis dan mulai menyayanginya. Setelah beberapa lama, Nenek bertekad untuk memergoki gadis itu.

Suatu hari, ketika gadis itu sibuk membersihkan rumah, Nenek keluar dari balik pintu. Gadis itu tak sempat lagi masuk kembali ke dalam buah delima. la terkejut dan ketakutan.

Nenek itu berkata, “Aku tidak mau menyakitimu dan aku tidak marah. Katakanlah dari mana kau datang dan bagaimana kau sampai ada di sini.”

Gadis itu menceritakan kisahnya. Sambil mendengarkan kisah gadis itu, Nenek cepat-cepat mengambil benang dan jarum rajutnya, lalu membuatkan pakaian sekadar menutupi tubuh gadis itu. Kemudian, gadis itu diberi nama Putri Delima.

Alkisah, tersebarlah berita tentang nenek yang tiba-tiba mempunyai cucu seorang gadis yang sangat cantik. Kabar angin itupun sampai ke telinga putra mahkota yang segera berangkat untuk melihat gadis itu. Setelah melihat gadis itu, putra mahkota terperanjat sebab gadis itu putih seperti ricotta dan merah seperti darah. Putra mahkota segera mendatangi rumah Nenek, lalu bertanya, tentang gadis itu. Melihat putra mahkota, Nenek ketakutan dan memohon, “Wahai Tuanku, jangan hamba dihukum.”

Putra mahkota memegang tangan Nenek sambil berkata, “Aku tidak akan menghukummu, aku hanya ingin mengetahui siapakah gadis itu.” Nenek pun menceritakan kisah gadis itu.

Putra mahkota tak ragu-ragu lagi, dialah putri idamannya. Diajaknya Nenek dan gadis itu ke istana. Dipanggilnya Saracina. Melihat gadis itu, Saracina tak berdaya dan menunduk ketakutan.

Putra mahkota yang baik hati itu berkata, “Aku tak mau munghukummu, biarlah kau menderita sendiri akibat perbuatanmu yang jahat.”

Akhirnya, putra mahkota berhasil mencapai keinginannya dan menikah dengan putri cantik yarig putih seperti ricotta dan merah seperti darah. Mereka hidup bahagia dan menggantikan orangtuanya menjadi raja dan ratu yang bijaksana.

Cerita Rakyat Jawa Barat Kesetiaan Seekor Harimau

Kesetiaan Seekor Harimau


Pada jaman dahulu, ada sepasang suami istri di Tasikmalaya. Kehidupan mereka cukup tentram dan bahagia. Pada suatu hari mereka menemukan seekor harimau kecil yang ditinggal mati oleh induknya. Harimau itu dipelihara oleh oleh mereka, dididik dan diperlakukan seperti anggota keluarga sendiri. Ternyata hewan itu tahu diri, ia menjadi penurut kepada sepasang suami istri itu. Harimau pun tumbuh menjadi besar, ia cerdas dan tangkas.Kemudian sepasang suami istri itu menamainya Si Loreng.

Demikian erat hubungan Si Loreng dengan suami istri itu sehingga ia dapat mengerti kata-kata yang diucapkan suami istri itu. Kalau ia disuruh pasti menurut dan mengerjakan perintah suami istri itu dengan baik.

Suami istri yang bekerja sebagai petani itu semakin berbahagia ketika lahir anak mereka seorang bayi laki-laki yang sehat dan menyenangkan. Inilah saat bahagia yang mereka tunggu-tunggu sejak lama. Apabila mereka pergi bekerja ke sawah, bayinya ditinggal di rumah. Si Loreng ditugaskan untuk menjaga keselamatan bayi itu. Hal ini berlangung selama beberapa bulan.

Sepasang suami istri itu semakin sayang kepada Si Loreng kerna hewan itu ternyata dapat dipercaya menjaga keselamatan anak mereka.

Pada suatu siang yang terik, istri petani pergi ke sawah untuk mengirim makanan kepada suaminya. Melihat kedatangan istrinya si suami segera menghentikan pekerjaannya. Disana si suami melahap makanan yang dihidangkan istrinya.

Baru saja setelah makan dan minum, tiba-tiba mereka mendengar suara gerengan si Loreng. Si Loreng nampak lari pontang-pantin melewati pematang sawah terus menuju dangau. Si Loreng mengibaskan ekorna berkali-kali dengan lembut sembari menggosok-gosokkan badannya kepada suami istri itu.

"Kakang, mengapa tingkah Si Loreng tidak seperti biasanya?", tanya si istri.

"Iya Istriku... Aneh sekali. Ada apa gerangan?" sahut sang suami.

"Kakang lihat!!! Mulut Si Loreng penuh dengan darah!!!!", teriak sang istri

Sang suami tersentak kaget, mulut Si Loreng memang berlumuran darah.

"Loreng...? Jangan-jangan kau telah menerkam anakku. Kau telah membunuh anakku!!" kata sang suami.

Si Loreng menggeleng-gelengkan kepalanya, sehingga darah dibagian mulutnya berhamburan. Si suami seketika meluap amarahnya. Ia segera mencabut goloknya dan memenggal kepala Si Loreng. Si Loreng tak menduga disreang secara tiba-tiba sehinnga ia pun tak sempat mengelak. Harimau itu mengeram kesakitan, ia tidak melawan, hanya sepasang matanya memandang kearah sepasang suami istri itu dengan penuh rasa penasaran. Karena hewan itu belum mati, si suami segera mengayunkan goloknyadengan penuh kemarahan hingga tiga kali. Putuslah leher Si Loreng dari badannya. Hewan itu tewas dengan cara mengenaskan.

"Kakang! Cepat kita Pulang!"

Mereka segera berlari ke rumahnya.

Sampai di rumah, mereka mendapati anaknya masih berada dalam ayunannya. Bayi itu nampak tertidur nyenyak. Dirabanya tubuh anak itu, diguncang-guncang tubuhnya. Si bayi pun terbangun dan tersenyum melihat kedatangan orang tuanya.

Kedua suami istri itu bersyukur karena bayinya selamat dan masih hidup. Setelah puas memandangi anaknya, mereka merasa lega atas keselamatan anaknya. Kini mereka celingukan, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Perhatian mereka terpusat pada tempat sekitar ayunan anaknya bagian bawah. Mereka mendapatkan bangkai seekor ular yang sangat besar berlumuran darah tergeletak di bawah ayunan. Sadarlah kedua suami istri itu bahwa Si Loreng telah berjasa menyelamatkan jiwa anaknya dari bahaya, yaitu dari serangan ular besar.

Mereka sangat menyesal, terlebih sang suami karena telah tergesa-gesa membunuh harimau kesayangannya.

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita agar tidak bertindak gegabah. Berpikirlah dengan cermat sebelum mengambil tindakan yang nantinya merugikan.

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar







The Story Of Donkey Skin

Donkey Skin

Once upon a time, there lived a king who had a magic donkey. This donkey was his most priced possession. Every morning pieces of gold would tumble out of its ears.
.
After many years of prosperity, a sudden blow fell upon the king in the death of his wife, whom the king loved dearly. But before she died, the queen asked the king to promise that if he should marry again, he would only marry a woman who is more beautiful than the queen herself.
.
‘Oh, do not speak to me of marrying,’ sobbed the king; ‘rather let me die with you!’ But the queen only smiled faintly, and turned over on her pillow and passed.
.
After several months of grieving, the king finally decided to take a new wife. Remembering a promised he had made to his late wife, the king asked his counselors to find a woman fit to be a queen, who was more beautiful than the late queen.
.
The counselors sent envoys far and wide to get portraits of all the most famous beauties of every country. The artists were very busy and did their best, but, alas! Nobody could even pretend that any of the ladies could compare for a moment with the late queen.
.
At length, one day, when he had turned away discouraged from a fresh collection of pictures, the king’s eyes fell on his own daughter, and he saw that, if a woman existed on the whole earth more lovely than the queen, this was she! He at once made known what he wishes to marry his own daughter.
.
The young princess was terrified upon hearing her father’s decision. That night, when everyone was asleep, she started in a little car drawn by a big sheep, and went to consult her fairy godmother.
.
‘I know what you have come to tell me,’ said the fairy, when the princess stepped out of the car; ‘and if you don’t wish to marry him, I will show you how to avoid it. Ask him to give you a dress that exactly matches the sky. It will be impossible for him to get one, so you will be quite safe.’ The girl thanked the fairy and returned home again.
.
The next morning, when her father came to see her, she told him that she could give him no answer until he had presented her with a dress the colour of the sky. The king sent for all the weavers and dressmakers in the kingdom, and commanded them to make a robe the colour of the sky. In two days they brought back the dress, which looked as if it had been cut straight out of the heavens! The poor girl was thunderstruck, and did not know what to do; so in the night she harnessed her sheep again, and went in search of her fairy godmother.
.
‘The king is cleverer than I thought,’ said the fairy; ‘but tell him you must have a dress of moonbeams.’
And the next day, when the king summoned her into his presence, the girl told him what she wanted.
‘Madam, I can refuse you nothing,’ said the king; and he ordered the dress to be ready in twenty-four hours.
.
They set to work with all their might, and by dawn next day, the dress of moonbeams was laid across her bed. The girl, though she could not help admiring its beauty, began to cry, till the fairy, who heard her, came to her help.
.
Well, I could not have believed it of him!’ said she; ‘but ask for a dress of sunshine, and I shall be surprised indeed if he manages that!’
.
The princess did not feel much faith in the fairy after her two previous failures; but not knowing what else to do, she told her father what she was told.
.
The king made no difficulties about it, and even gave his finest rubies and diamonds to ornament the dress, which was so dazzling, when finished, that it could only be looked through smoked glasses!
.
When the princess saw it, she pretended that the sight hurt her eyes, and retired to her room, where she found the fairy awaiting her, very much ashamed of herself.
.
‘There is only one thing to be done now,’ cried she; ‘you must demand the skin of the donkey he treasures by. It is from that donkey he obtains all his vast riches, and I am sure he will never give it to you.’
.
The princess was not so certain; however, she went to the king, and told him she could never marry him till he had given her the donkey’s skin.
.
The king was both astonished and grieved at this new request, but did not hesitate at all. The donkey was sacrificed, and the skin laid at the feet of the princess.
.
The poor girl, seeing no escape from the fate she cried bitter tears; when, suddenly, the fairy stood before her.
.
‘Don’t cry child, all will be well! Wrap yourself in this skin, and leave the palace and go as far as you can. I will look after you. Your dresses and your jewels shall follow you underground, and if you strike the earth whenever you need anything, you will have it at once. But go quickly: you have no time to lose.’
.
So the princess clothed herself in the donkey’s skin, and slipped from the palace without being seen by anyone.
The King searched near and far for her, but the fairy’s magic protected her so she couldn’t be found.
.
The princess walked on a long, long way, trying to find some one who would take her in, and let her work for them; but though the cottagers, whose houses she passed, gave her food from charity, the donkey’s skin was so dirty they would not allow her to enter their houses.
.
Tired and disheartened at her bad luck, she was wandering, one day, past the gate of a farmyard, located just outside the walls of a large town, when she heard a voice calling to her. She turned and saw the farmer’s wife standing among her turkeys, and making signs to her to come in.
.
‘I want a girl to wash the dishes and feed the turkeys, and clean out the pig-sty,’ said the women, ‘and, to judge by your dirty clothes, you would not be too fine for the work.’
.
The girl accepted her offer with joy, and she was at once set to work in a corner of the kitchen. Although the other servants made fun of her because of her dirty donkey skin, they grew fond of her because she was such a hard worker.
.
One day the princess was sitting on the banks of a stream bewailing her wretched lot, when she suddenly caught sight of herself in the water. The donkey’s head, which was drawn right over like a hood, concealed her hair and part of her face and the filthy matted skin covered her whole body. It was the first time she had seen herself as other people saw her, and she was really embarrassed. Then she threw off her disguise and jumped into the water, taking a bath, till she shone like ivory. When it was time to go back to the farm, she was forced to put on the skin, which disguised her.
.
However, she remembered that she still had beautiful gowns and remembering what the fairy had told her, she stamped on the ground, and instantly the dress like the sky lay across her tiny bed. The princess put on the dress and combed her hair. When she had done, she was so pleased with herself that she determined never to let a chance pass of putting on her splendid clothes, even if she had to wear them in the fields, with no one to admire her but the sheep and turkeys.
.
Now the farm belonged to the neighboring king, and, one holiday, when ‘Donkey Skin’ (as they had nicknamed the princess) had locked the door of her room and clothed herself in her dress of sunshine, the king’s son rode through the gate, and asked if he might come and rest himself a little after hunting. Some food and milk were set before him in the garden, and when he felt rested he got up, and began to explore the house, which was famous throughout the whole kingdom for its age and beauty. He opened one door after the other, admiring the old rooms, when he came to a handle that would not turn. He stooped and peeped through the keyhole to see what was inside, and was greatly astonished at beholding a beautiful girl, clad in a dress so dazzling that he could hardly look at it.
.
The young prince also witnessed when the young beautiful maiden threw on an ugly dirty donkey skin to conceal all of her beauty.
.
All night long he couldn’t sleep, and awoke the next morning in a high fever. No doctors in the kingdom could cure the young prince. At last they told the queen that some secret sorrow must be at the bottom of all this, and she threw herself on her knees beside her son’s bed, and implored him to confide his trouble to her. If it was ambition to be king, his father would gladly resign the cares of the crown, and suffer him to reign in his stead; or, if it was love, everything should be sacrificed to get for him the wife he desired, even if she were daughter of a king with whom the country was at war at present!
.
‘Well, then,’ replied the prince, ‘I will tell you the only thing that will cure me —a cake made by the hand of “Donkey Skin.” ‘
‘Donkey Skin?’ exclaimed the queen, who thought her son had gone mad; ‘and who or what is that?’
.
‘Madam,’ answered one of the attendants present, who had been with the prince at the farm, ‘”Donkey Skin” is, next to the wolf, the most disgusting creature on the face of the earth. She is a girl who wears a black, greasy skin.
.
‘Never mind,’ said the queen; ‘my son seems to have eaten some of her pastry. It is the whim of a sick man, no doubt; but send at once and let her bake a cake.’
.
Upon receiving the queen’s command, Donkey Skin flung off the dirty skin, washed herself from head to foot, and put on a skirt and bodice of shining silver. Then, locking herself into her room, she took the richest cream, the finest flour, and the freshest eggs on the farm, and set about making her cake.
.
As she was stirring the mixture in the saucepan a ring that she sometimes wore in secret slipped from her finger and fell into the dough. Soon the cake was ready to be put in the oven. When it was nice and brown she took off her dress and put on her dirty skin, and gave the cake to the messenger, asking at the same time for news of the prince. But the page turned his head aside, and would not even care to answer.
.
The prince ate the cake and found the ring. Then he set his mind to find how he was to see the owner—for even he did not dare to confess that he had only beheld ‘Donkey Skin’ through a keyhole. All this worry brought back the fever, and the doctors, not knowing what else to say, informed the queen that her son was simply dying of love. The queen, stricken with horror, rushed into the king’s presence with the news, and together they hastened to their son’s bedside.
.
‘My boy, my dear boy!’ cried the king, ‘who is it you want to marry? We will give her to you for a bride; even if she is the humblest of our slaves. What is there in the whole world that we would not do for you?’
.
The prince, moved to tears at these words, drew the ring, which was an emerald of the purest water, from under his pillow.
.
‘Ah, dear father and mother, let this be a proof that she whom I love is no peasant girl. The finger which that ring fits has never been thickened by hard work. I will marry no other.’
.
The king and queen examined the tiny ring very closely, and agreed, with their son, that the wearer could be no mere farm girl. Then the king went out and ordered heralds and trumpeters to go through the town, summoning every maiden to the palace. And she whom the ring fitted would some day be queen.
.
First came all the princesses, then all the duchesses’ daughters, and so on, in proper order. But not one of them could slip the ring over the tip of her finger, to the great joy of the prince, whom excitement was fast curing. At last, when the high-born damsels had failed, the shop-girls and chambermaids took their turn; but with no better fortune.
.
‘There is not a woman left, your Highness,’ said the chamberlain; but the prince waved him aside.
‘Have you sent for “Donkey Skin,” who made me the cake?’ asked he, and the courtiers began to laugh, and replied that they would not have dared to introduce so dirty a creature into the palace.
.
‘Let someone go for her at once,’ ordered the king. ‘I commanded the presence of every maiden, high or low, and I meant it.’
.
The princess had heard the trumpets and the proclamations, and knew quite well that her ring was at the bottom of it all. She, too, had fallen in love with the prince in the brief glimpse she had had of him. She had dressed herself with great care, putting on the garment of moonlight. But when they began calling to her to come down, she hastily covered herself with her donkey-skin and announced she was ready to present herself before his Highness. She was taken straight into the hall, where the prince was awaiting her, but at the sight of the donkey-skin his heart sank. Had he been mistaken after all?
.
‘Are you the girl,’ he said, turning his eyes away as he spoke, ‘are you the girl who has a room in the furthest corner of the inner court of the farmhouse?’
.
‘Yes, my lord, I am,’ answered she.
.
‘Hold out your hand then,’ continued the prince, feeling that he must keep his word, whatever the cost, and, to the astonishment of every one present, a little hand, white and delicate, came from beneath the black and dirty skin. The ring slipped on with ease, and, as it did so, the skin fell to the ground, disclosing the most beautiful woman everyone had ever seen.
.
The prince fell on his knees before her, asking her to marry him. The princess accepted.
.
The kings of every country on earth were invited, including, of course, the princess’s father. The old king was shocked to see her daughter on the throne. He fell on his knees and begged his daughter for forgiveness. The princess embraced her father and told the king that he was forgiven.
.